20170604

Menunggu = SABAR!

Menunggu itu membosankan.
Apalagi ketika sudah lama antri menunggu, namun disalip.
Entah itu kesalahan dari yang kita tunggu, atau orang lain yang tidak sabaran menunggu.
Paling menyakitkan kalau tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg saat antrian diambil orang.
Cuma bisa menghela nafas.
Syukur-syukur pesanan datang.
Ya ampyuuun, gue mah kagak kapok-kapok disalip orang.
Tetep sabar.
Orang sabar disayang pacar.
Eh?
Orang sabar pantatnya lebar.
Eeeehhhhh?
Sekilas curhatan di rumah makan, 4 Juni 2017.

20170602

Lihatlah, Lakukanlah..

Ada hal yang selalu menjadi perhatian ketika berada di sini.
Jenis perhatian berupa simpati, yang terkadang mengarah ke empati.
Ketika berhenti di pinggiran jalan tengah kota, taman-taman yang ramai orang lalu lalang, bahkan di warung makan sederhana, ada lah dia.
Iya, dia dan mereka yang memperoleh biaya hidup dari berjualan koran dan majalah. Anak-anak kecil yang keliling menawarkan koran di siang hingga malam hari. Terkadang masih dengan celana/rok sekolahnya, merah, maka dari itu pun saya tau.
"Ibu, koran ko?"
"Dua ribu saa..!"
Padahal saya tau, kalau pagi ada remaja atau bapak-bapak yang menjualnya seharga Rp. 3.000,- atau Rp. 4.000,-
Saya tau memang tidak membutuhkannya, tetapi sekali dua kali ingin untuk sekedar membelinya. Bukankah mereka juga butuh uang untuk hidup?
Dan saya sangat lebih menghargai mereka dibanding orang-orang (yang lebih dewasa dan kuat) yang selalu menagih parkir di mana pun kita berada.
Yah, tetapi tetap, kita semua butuh pekerjaan, butuh uang.
Ada lagi anak-anak yang selalu menyambangi ketika tiba di parkir sebuah mall. Benar-benar saat kita tiba di parkir. Mereka akan segera menghampiri sambil membawa kripik pedas dari olahan ubi yang digoreng kering. Dan berminyak. Terlalu berminyak.
"Ka, beli satu do.. "
" Tolong do kaka"
Okay, saya tidak tega. Tetapi bisa kah ditawari ketika kita selesai berbelanja?
Kadang saya memberi alasan ke suami bahwa ingin membeli untuk cemilan di kantor dengan teman-teman.
Sesungguhnya, saya empati. Iba. Ingin melakukan sesuatu walau hanya bisa dengan membeli.
Mereka juga pasti butuh makan, butuh biaya hidup lainnya. Apalagi masih bersekolah.
Selain itu, di depan rumah makan ataupun supermarket, akan terlihat laki-laki, kebanyakan masih muda, belum 40-an, berdiri memegangi beberapa kemoceng. Sekilas tampak masih sangat kuat, mampu bekerja. Padahal, sejatinya, mereka tidak dapat melihat. Mereka tetap bekerja. Apalagi melihat salah satu kakek tuna netra yang selalu ditemani oleh cucunya. Duduk di depan sebuah supermarket. Menjual kemoceng. Menunggu. Menanti seseorang yang mau membeli. Tidak tahan melihatnya. Sedih. Mereka mampu bertahan dan tidak mengeluh dengan keadaan.
Sedangkan saya, sedikit-sedikit mengeluh. Memalukan.
Dan paling sedih kalau lihat orang tua, mungkin sudah di atas setengah abad, berjalan kaki sembari membawa plastik atau karung. Kalian pasti sudah bisa menebak. Iya, mereka memungut kaleng atau botol bekas. Masih ada. Saya pernah melihat beberapa kali.
Terlalu sedih rasanya, mata berkaca, tetapi tetap tegar melihatnya. Belajar dari mereka, bagaimana perjuangan hidup. Bagaimana tidak menyerah dengan usia. Mereka kuat. Orang-orang tangguh.
Ada banyak hal yang bisa kita lihat, pelajari dan terapkan di kehidupan.
Itu kalau kita mau melihat sekitar.
Melihat dengan mata, dengan hati.
Terkadang membuat kita haru dan menangis, inginkan kita untuk bertindak.
Walau hal yang tidak besar.
Karena saya tau, perubahan itu berawal dari hal-hal kecil.
Lihatlah, dan Lakukanlah.

20170601

Kamu K-O-N-S-I-S-T-E-N gak ?

Konsisten?
Apa itu?
Bahkan untuk belajar saja saya tidak konsisten. Membuka KBBI untuk tau apa itu konsisten saja malas. Bagaimana dengan lainnya.
Seperti konsisten DIET. Atau lebih tepat menjaga pola makan untuk menghindari obesitas. Dan saya sudah obesitas.
Lucu saja, ketika hari Minggu pagi berkata 'esok mulai deh dietnya', dan seharian di hari Minggu itu akan full makan makanan yang tidak sehat untuk tubuh.
Alasannya sih selalu 'kan buat terakhir kali'. WHAAAAAAT??!!!
Terus pas Senin diet mati-matian dan berhasil. Sedangkan Selasa sampai Minggu adalah Cheat-day (lagi). Cheat. WHAAAAAAT??!!!
Ampun deh, gak konsisten banget lah pola makan saya. Konsistennya cuma buat makan. Apa saja. Sebutnya : K-A-L-A-P
Terkait dengan Diet-dietan, ada juga yang namanya OLAHRAGA.
Senin Selasa non-stop jalan kaki 30 menit pagi sore. Alhasil, hari Rabu kaki kram. Istirahat. Alasan saja. Dan Kamis pun berlalu. Begitu pula Jumat, Sabtu serta Minggu.
Konsisten tidur dan malas-malasan all day long. Yeah, tidur sampai malas untuk tidur, namun tetap dipaksa tidur.
Apalagi terkait hobby. Hobby yang moody. Misal menggambar KOMIK, atau nge-BLOG. Kemampuan hilang entah ke mana. Tetep, gara-gara gak konsisten. Hanya karena lebih asyik spam posting-an foto-foto di Instagram, update status Facebook, atau sekedar 'kepoin' orang di medsos. Hello, Kepo kok jadi hobby???
Tapi, kalau soal HATI, saya konsisten. Ok, cukup. Tidak ada penjelasan. Tidak perlu buka KBBI atau googling.
Dan dari semua tulisan random ini, tidak perlu ada yang dipusingkan.
Mending pusing-pusing kota (baca : keliling kota).
Biar gak KEPO ajee noh.. 