20170711

Cerita Seorang Kaka

Hari ini dia memanggilku, memaksaku menghampirinya. Orang yang sudah lama aku kenal, namun baru akrab beberapa hari belakangan ini. Panggil saja kaka.
Diantara orang-orang di sekitarnya, menurutku dialah yang paling normal. Maksudku, karena yang lain bagiku kurang mendekati kepribadianku.
Pribadi yang cenderung menutup diri dari orang lain.
Tiba-tiba hari ini dia bercerita banyak. Tentang pribadinya. Tentang perjuangannya menjadi seorang istri, seorang menantu, dan utamanya adalah seorang Ibu untuk anak-anaknya.
Entah kenapa kami nyambung. Seperti mengobrol dengan teman baik yang terasa lama telah tidak bertemu.
Padahal kami beda 10 tahun kurang lebih.
Namun perbincangan ini hangat dan menggebu. Sharing satu sama lainnya. Bahkan kita sampai juga pada curhat kondisi rumah tangga masing-masing.
Saya kagum padanya. Bagaimana dia sabar menghadapi yang telah terjadi belasan tahun ini. Bagaimana belajar ikhlas. Bagaimana menghormati yang sepatutnya dihormati. Belajar senantiasa mengayomi, sembari berkarir. Menjadi pekerja kantoran, dan juga sebagai ibu rumah tangga.
Intinya, berusaha tegar menjalani keadaan.
Berusaha, dan terus berdoa.
Karena dia percaya bahwa doa mengubah segalanya.
Doa membuat seseorang menjadi lebih baik.
Doa seorang istri untuk suami dan anak-anaknya.
Dan, ingatlah, kesuksesan dan rejeki seorang suami adalah bersumber dari kebahagiaan seorang istri.
Maka, janganlah membuat Istri menangis, begitu tutupnya.

20170610

Es Buah Gula Sabu Khas NTT

Siapa sih yang gak suka es buah?
Kalau aku sih semenjak di rantau ini jarang beli. Keseringan es buah di sini jarang buahnya, yang ada jelly/agar-agar aja. Buah memang mahal. Kecuali sewaktu musiman, misal alpulat dan sirsak.

Namum ada 1 es buah yang benar-benar menjadi idolaku. Bukan karena buah, harga, atau porsinya, namun karena pemakaian gula Sabunya. Apa sih gula Sabu?
Sabu merupakan Kabupaten di Nusa Tenggara Timur, beda pulau dengan daratan Timor (Kupang). Nah, gula dari Sabu ini bentuknya cair, mirip seperti gulali. Kalau anak jaman 90-an pasti tau deh apaan tuh GULALI

Es nya berisi macam-macam buah sesuai musim. Pepaya, semangka, melon, alpukat, sirsak, dan kelapa muda. Juga agar-agar dan nata de coco. Ditimbun dengan serutan es yang menggunung, lalu dibalurkan gula Sabu.
Di sini kebanyakan masih menggunakan es serut. Jadi kangen jaman 90-an. Dan, di kota ini masih bisa kamu dapatkan sedikit kenangan itu.


Lokasinya di sebelah Komando Resort Militer 161/Wirasakti (atau Korem161/Wirasakti) jalan W. J. Lalamentik Kupang.
Harga Rp.8.000,- per porsi.
Jam buka mungkin di atas jam 9 pagi (karena aku biasa beli sewaktu jam makan siang) sampai dengan sore dan kadang malam seperti di bulan puasa ini.
Pedagangnya ramah. Dan selalu tau kalau aku pasti minta tambahan baluran gula Sabu.

Bukan promosi, karena bukan marketing team.
Hanya info, kali aja ada yang lagi ngidam!
Wkwkwk.

20170609

Nyaman, masih seperti dulu.

Ada hal yang akan selalu ku ingat ketika di tempat itu. Suasana ramai riuh. Tempat yang terkesan agak kuno. Ibu yang selalu ramah menyapaku semenjak tiga tahun di rantau ini, baik sejak aku masih melajang, sampai kini berekor satu. Tidak lupa Hujan kala itu. Dimana aku tergerak seketika untuk kembali menulis. Sembari mengamati dua anak lelaki bermain hujan di pinggiran jalan. Tertawa gaduh. Ah, rindu sekali duduk di balik jendela itu. Benar-benar.
Kemarin, aku mengunjunginya kembali. Sebagai yang pertama kali, di blok berbeda pada jalanan yang masih sama. Tempatnya lebih modern, rapi, dan selalu tetap ramai seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Masih tetap ada yang aku suka.
Memang sudah lama sekali aku tidak bertemu Ibu pemilik tempat ini. Sudah sangat lama tidak mencicipi lagi tahu besarnya. Iya, tahu yang benar-benar besar, mungkin 4 kali tahu normal. Dan bakwan jagung tentu. Semua sajian menggoda mataku.
Aku hanya berdiri menunggu setelah bersusah payah memarkir motorku (motor suamiku tepatnya). Menanti antrian di depanku. Sembari memperhatikan si ibu. Syukurlah sehat selalu.
Tak berselang lama daripada itu, Ibu kaget berseru. "Kemana aja selama ini nduk?"
Aku hanya tersenyum lebar, malu-malu, benar malu karena lama tak berkunjung.
Masih tetap dengan basa-basi yang masih kaku untuk aku lakukan.
Tetap dengan keramahan si Ibu pemilik warung makan.
Walau tidak ada lagi jendela tempat mengintip jalanan, tetaplah menyenangkan.
Karena,
Aku selalu diberikan banyak pilihan lauk dengan harga yang menurutku normal.
Hahaha!
Makasi Ibu, sehat selalu.